Piagam Penghargaan Romo Phoa Krishnaputra

Ditulis oleh : Andy Tirta
Romo Maha Upasaka Phoa Krishnaputra menerima Anugerah Piagam Penghargaan Sasanadhaja Dharma Adhyapaka Pancasat Warsa dari Direktur Jenderal Bimbingan Masyarakat Buddha, di Medan pada tanggal 12 Februari 2022.
Anugerah tersebut diberikan karena Romo Phoa Krishnaputra telah berjasa mengembangkan Agama Buddha di tanah air selama lebih dari 50 tahun.
Maha Upasaka Phoa Krishnaputra adalah murid dari Bhikkhu Ashinjirakkhita yang terkenal dengan panggilan Sukong oleh para umat Buddhis di tanah air.
Romo Krishnaputra yang dikenal akrab dengan sebutan Pak Phoa adalah tokoh Buddhis yang turut berjasa dalam mengembangkan agama Buddha di tanah air khususnya di Sumatera Utara.
Beliau turut menyusun Buku Doktrin Sanghyang Adi Buddha Tuhan Yang Maha Esa. Buku doktrin tersebut kemudian sekitar tahun 1970-an diserahkan kepada Presiden Soeharto oleh Romo Phoa Krishnaputra.
Di masa muda, Pak Phoa pernah menjabat posisi Ketua Persaudaraan Muda-mudi Vihara Buddhayana Indonesia (PMVBI).
Pak Phoa dulu membangun Wihara Borobudur yang terletak di jalan Imam Bonjol, Medan.
Kini, Wihara Borobudur telah diperluas dan ditingkatkan hingga 8 lantai.
Pak Phoa pernah bertahun-tahun menjadi Ketua Yayasan Wihara Borobudur.
Lewat Yayasan Wihara Borobudur inilah beliau menerbitkan buku-buku pelajaran agama Buddha untuk SD, SMP dan SMA. Bahkan lewat yayasan itu pula diterbitkan Majalah Buddhis Nasional Manggala selama tahun 1986 hingga tahun 1988.
Agama Buddha kini telah berkembang pesat.
Saya masih ingat sekitar tahun 80-an sangat sulit menemukan buku-buku tentang agama Buddha. Bahkan sulit ditemukan di toko buku besar. Dan bangunan wihara pun masih langka.
Namun, sekarang ini, begitu mudah mencari buku-buku agama Buddha. Dan bangunan wihara sudah sangat mudah ditemukan.
Perkembangan agama Buddha yang pesat itu berkat perjuangan dari Bhante Ashinjirakkhita beserta para murid-murid beliau. Salah satu muridnya Sukong adalah Romo Maha Upasaka Phoa Krishnaputra.
Ada beberapa hal yang saya catat dari Pak Phoa yaitu beliau adalah seorang tokoh Buddhis yang ‘low profile’, sederhana dan ‘humble’. Meskipun beliau pernah bekerja sebagai direktur utama sebuah perusahaan sawit di Sumatra Utara.
Tapi, saya tak pernah melihat beliau mengendarai mobil mewah dalam aktivitas sehari-hari.
Beliau seringkali mengajarkan para muda-mudi untuk selalu “be humble”.
Satu hal lagi yang saya catat dan perlu disampaikan adalah bahwa Beliau termasuk tokoh Buddhis yang berjasa besar yang menjadikan Agama Buddha diterima sebagai agama resmi di Republik tercinta ini.






