Gunungan Wayang atau di berbagai daerah biasa juga disebut Kayon ternyata menyimpan misteri yang sudah lama sekali, bisa saja hingga ribuan tahun. Selain itu Gunungan yang kita tahu sebagai pembuka dan penutup pertunjukan wayang ini memiliki nilai filosofi yang tinggi. Sangat disayangkan jika generasi bangsa di masa kini meninggalkan, tidak mau mempelajari atau bahkan memusnahkan karya yang luhur tersebut. Untuk itu dalam kesempatan melalui Santala ini kami hendak membahas mengenai peninggalan kuno yang sangat bernilai ini agar bangsa kita tidak kehilangan jati dirinya sebagai bangsa yang besar.
Dilansir dari wikipedia bahwa Gunungan Wayang dalam pewayangan, gunungan adalah figur khusus berbentuk gambar gunung beserta isinya. Gunungan memiliki banyak fungsi dalam pertunjukan wayang, karena itu, terdapat banyak penggambaran yang berbeda-beda.
Tabel Konten
Wayang dari Zaman ke Zaman
Jaman dulu orang hiburannya wayang. Kalau ada pertunjukan wayang, orang-orang desa berbondong-bondong melihat tontonan tersebut. Perlahan dunia pun berubah. Muncul film yang bisa dilihat lewat layar tancap, tv yang terus berevolusi, hingga sekarang orang cari hiburan disaat gabut dari genggaman lewat aplikasi video streaming atau medsos seperti IG dan TikTok.
Kita ya tidak bisa memaksa anak-anak muda sekarang untuk senang nonton wayang. Dari segi bahasa juga sudah banyak perbedaan dengan bahasa yang umum dipergunakan di kehidupan sehari-hari.
Meski demikian, mempelajari tradisi atau budaya masa lalu bisa menjadi sesuatu yang menarik, bahkan dengan kreatifitas dan teknologi saat ini wayang bisa disajikan dengan lebih menarik. Bisa saja kelak ada pertunjukan wayang yang kreatif di dunia metavers dan tema-tema wayang bernilai filosofi yang tinggi bisa menjadi NFT yang layak dikoleksi oleh para kolektor.
Misteri Besar di Akhir Zaman Es
penampakan ketika Indonesia masih menyatu dengan benua Asia
Bagi mereka yang suka memikirkan kehidupan dan mengambil hikmah dari hasil pemikiran para pendahulu di masa lalu, maka misteri di jagad wayang bisa menjadi sesuatu yang menarik sekali untuk dieksplorasi. Dimulai dari Gunungan.
Gunungan biasa ditancapkan di tengah ketika pertunjukan wayang hendak dimulai maupun ketika pertunjukan telah selesai dan setelah dimulai bisa diletakkan di kiri ataupun kanan atau condong ke kiri atau kanan dan dimainkan ketika hendak ganti segmen cerita.
Menurut seorang profesor asal Universitas Oxford, Inggris, Stephen Oppenheimer, pola Gunungan bukanlah peninggalan dari peradaban Hindu-Buddha di Jawa, tapi jauh dari itu di akhir zaman es. Pola tersebut juga ditemui di rumah adat Dayak kenyah, di motif batik di kain tenun di Sumatera dan Sumbawa. Artinya ada akar budaya yang sama di masa lalu yang akhirnya tersebar ke berbagai penjuru.
Meski demikian kita coba jelajahi dulu pemaknaan Gunungan setelah berbagai budaya dan pemikiran berpadu di tanah jawa sehingga menghasilkan suatu karya pemikiran yang indah.
Filosofi Tinggi Gunungan Wayang
Dalang memainkan Kayon atau Gunungan Wayang pada saat hendak mulai pementasan
Gunungan yang menancap di tengah adalah kondisi awal dan akhir yang seimbang, simetri, tidak ada nilai. Ketika condong memperlihatkan jagad yang sudah tidak lagi simetri, sehingga drama-drama kehidupan mulai berjalan, nilai-nilai mulai muncul, baik dan juga buruk.
Bentuk yang lancip atau mengerucut atasnya bermakna bahwa semakin lama, pribadi manusia harus memiliki orientasi atau kesadaran akan ketuhanan. Hidup harus selalu menuju ke arah tersebut.
Pohon yang hampir memenuhi badan gunungan sampai atas menunjukkan pengayoman Tuhan atas semesta dan pola pikir manusia yang semestinya selalu menghasilkan manfaat demi manfaat.
Ular yang melilit batang pohon menunjukkan bahwa untuk mencapai kesadaran yang tinggi dan bisa kembali kepada-Nya tentunya harus melalui lika-liku kehidupan yang sering kali tidak mudah.
Burung-burung menunjukkan bahwa sudah semestinya kita “memayu hayuningrat”, memperindah dunia atau semesta yang sebenarnya indah ini. Jangan malah jadi manusia yang merusak keindahan.
Banteng menunjukkan bahwa pribadi manusia haruslah kuat, lincah, tangguh dalam menjalani hidup. Gambar macan menunjukkan bahwa manusia harus punya jati diri dan mampu menjadi pemimpin atas dirinya sendiri.
Gerbang dengan dua penjaga gerbang menunjukkan hati yang dijaga oleh kebaikan dan keburukan. Sedang di sebalik pintu gerbang adalah sesuatu yang tidak mudah kita pahami.
Raksasa menunjukkan sifat angkara murka manusia yang ingin menguasai, ingin ini itu.
Gambar setan menunjukkan bahwa dalam hidup pasti ada tantangannya, ada saat kita mengalami keburukan atau kesialan atau cobaan.
Samudra menunjukkan lautan pemikiran manusia
Jadi Gunungan menunjukkan kondisi jagad, terutama jagad kecil yaitu manusia itu sendiri.
Ternyata gunungan mengandung makna filosofis yang kompleks bukan. Mari kita jadikan bahan perenungan dan pelajaran, silahkan saja. Kita bisa lebih memahami bahwa leluhur kita memiliki peradaban yang begitu maju dan kesadaran spiritual yang tinggi. Ini semestinya tidak dicapai dalam waktu singkat. Artinya peradaban di Nusantara ini termasuk peradaban yang sudah sangat tua.
Maka bukti tingginya peradaban para leluhur di masa lalu ini apakah layak untuk dimusnahkan? Siapa yang memusnahkan? Kita, yang sudah enggan nonton dan mempelajari wayang. Tidak ada yang nonton dan mempelajari, wayang akan musnah dengan sendirinya.
Post Views: 16 Diskusi publik dengan tema “Ibukota pindah?” yang diselenggarakan oleh Bamus Betawi pada Rabu, 25 September 2019, di Resto Kampung Kite, Jl. Kramat Sentiong, Jakarta Pusat, dengan 4 pembicara : Anggota DPRD DKI Jakarta, Haji Khotibi Achyar (Haji Beceng), Ketua Umum FBR, KH Lutfi Hakim, Staf senior KSP Bang Wandy Tuturoong (Binyo), dan…
Post Views: 12 “You are powered by PLN”, begitu tulisan di sepanjang pinggir jalan di kawasan Cengkareng, karena sedang ada galian kabel. Benar bangetlah bahwa kita semua ditenagai (powered by) oleh PLN. Bayangkan apa yang akan terjadi jika tanpa listrik dalam kehidupan kita sehari-hari? Tidak bisa menanak nasi dengan rice-cooker, tak bisa hidupkan AC, tak bisa…
Post Views: 127 Ditulis oleh : Andy Tirta Romo Maha Upasaka Phoa Krishnaputra menerima Anugerah Piagam Penghargaan Sasanadhaja Dharma Adhyapaka Pancasat Warsa dari Direktur Jenderal Bimbingan Masyarakat Buddha, di Medan pada tanggal 12 Februari 2022. Anugerah tersebut diberikan karena Romo Phoa Krishnaputra telah berjasa mengembangkan Agama Buddha di tanah air selama lebih dari 50 tahun….
Post Views: 5 Sketsa oleh : Andy Tirta “Sertakan saya dalam berbuat kebaikan. Jangan libatkan saya dalam kejahatan.”Itu ialah nasihat dari Master Cheng Yen, pemimpin Buddha Tzu Chi. Selayaknyalah kita selaku umat manusia senantiasa mempraktekkan nasihat itu. Baik dalam pergaulan sehari-hari di sekolah, di kantor, di sekitar rumah, di organisasi, maupun dalam hidup berbangsa dan…
Post Views: 62 Catatan di awal tahun baru oleh : Andy Tirta Pesta penyambutan tibanya Tahun Baru 2022 telah usai. Kita sudah memasuki Tahun yang baru. Tahun 2022. Saatnya kita bangkit, menyingsingkan lengan baju, bekerja, bekerja, bekerja. Bekerja keras dan smart. Bekerja dengan jujur, bisa diandalkan dan dipercaya. Itulah modal setiap orang dalam bekerja mencari…
Post Views: 4 KH Gus Nuril Arifin Husein MBA, Pengasuh Pondok Pesantren Abdurrahman Wahid Soko Tunggal, Rawamangun Jakarta dan Pondok Pesantren Soko Tunggal Semarang, memberikan tanggapan atas tindakan Pangdam Jaya Mayjen Dudung Abdurrachman mencopoti baliho dan spanduk bergambar pemimpin Front Pembela Islam (FPI) Habib Rizieq Shihab. “Pencopotan spanduk dan baliho bergambar Habib Rizieq yang dilakukan…